FENOMENA KELULUSAN

(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...

Baru beberapa hari lalu (Senin, 16 Mei 2011) seluruh SMA & sederajat se-Indonesia mengumumkan kelulusan siswa kelas 3 atau kelas XII. Dan menurut informasi yang saya dapat, kelulusan SMA di seluruh Indonesia hampir mencapai 100% (untuk persentase tepatnya silakan dicari sendiri). Yaa, mungkin bisa dikatakan sebagai peningkatan prestasi yang baik, jika jumlah persentase kelulusan yang hampir mencapai 100% itu adalah hasil kerja keras para siswa dalam belajar selama ini, juga karena jasa para guru yang telah mengajar dengan sebaik-baiknya. Tapi, kalau jumlah yang hampir mencapai 100% itu ada keikutsertaan  proses "manipulasi", hmm... secara angka mungkin berhasil, tapi secara moral?

Ok. Terlepas dari kemungkinan-kemungkinan di atas, sebenarnya yang bikin menarik setiap tahunnya adalah "sesuatu yang dilakukan ketika pengumuman kelulusan". Bisa dibaca sendiri, berikut beberapa kegiatan yang dilakukan setelah pengumuman kelulusan yang saya dapat dari beberapa sumber informasi.
MALANG, KOMPAS.com — Sejak Minggu (15/5/2011), menjelang pengumuman kelulusan siswa SMA/SMK/MA, pembelian kondom di beberapa apotek di Kota Malang meningkat. Mayoritas pembelinya adalah anak muda.

Menurut seorang pemilik apotek di Kota Malang, yang enggan disebutkan namanya, sejak sehari sebelum pengumuman kelulusan, sudah banyak anak muda yang membeli kondom di apoteknya. "Kebiasaan ini terjadi hampir setiap menjelang kelulusan," katanya, Senin (16/5/2011).
Ia mengaku tidak tahu pasti untuk apa anak-anak muda itu membeli kondom. "Namun, kalau anak muda sudah beli kondom, ya mau dipakai apa lagi," kata pemilik apotek di wilayah Jalan Pasar Besar ini.
Seorang karyawan apotek lain di wilayah Supriadi, Sukun, Kota Malang, juga mengakui ada peningkatan penjualan kondom. "Memang banyak yang beli, terutama hari Minggu kemarin," ujar penjaga apotek itu. Ia juga tidak mau berspekulasi untuk apa anak-anak usia remaja itu membeli kondom.
Sementara itu, menurut pengakuan salah seorang siswa di sebuah SMKN di Kota Malang, Recky, beberapa siswa memang merayakan kelulusan dengan berhubungan intim bersama pacarnya. "Yang saya tahu, memang ada beberapa siswa yang melampiaskan kegembiraannya karena lulus dengan cara itu," katanya seusai mengikuti konvoi di depan Stasiun Kota Baru, Kota Malang.
Menurut Recky, lokasi favorit untuk merayakan kelulusan adalah di Kota Batu karena di kota wisata tersebut banyak vila. "Tapi biasanya mereka melakukan dengan pacarnya sendiri," katanya


PAMEKASAN, KOMPAS.com — Anggota Komisi D DPRD Pamekasan, Madura, Jawa Timur, secara tidak sengaja berpapasan dengan salah seorang siswi peserta konvoi kelulusan tingkat SMA sederajat di Jalan Raya Tlanakan. Siswi itu kedapatan sedang membuka baju seragamnya sambil mengendarai sebuah motor matik berwarna merah.

Bagian dada gadis ini pun terlihat jelas meski ditutupi dengan sehelai baju dalam. Juhaini, anggota Komisi D DPRD Pamekasan, langsung mengambil gambar siswi tersebut. Namun, karena menyadari ada mobil pelat merah yang mengambil gambar, siswi tersebut langsung menutup wajah dan tubuh bagian depan dengan rambutnya yang sebahu.

"Perayaan kelulusan semacam itu sungguh keterlaluan dan sudah menodai citra Kabupaten Pamekasan sebagai kabupaten yang memiliki slogan Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam)," ujarnya saat ditemui sejumlah wartawan di kediamannya.

Menurut dia, identitas siswa itu kemungkinan bisa dilacak sebab pelat nomor motor yang dikendarai jelas sekali dalam gambar yang diambilnya. "Prediksi saya, itu siswi dari sekolah swasta dan saya akan melacak pelat nomor itu agar ketahuan siapa yang bersangkutan," ujarnya.

Jika memang nantinya identitas siswi tersebut betul-betul diketahui, pihaknya akan menekan kepada Dinas Pendidikan Pamekasan dan sekolah yang bersangkutan agar ijazahnya ditahan.

Sementara itu, terkait dengan adanya motor pelat merah yang juga dibuat konvoi kelulusan oleh para siswa, politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga melihat langsung hal itu. "Saya heran kepada orangtua siswa tersebut kenapa motor dinas, kok, dipakai anaknya sampai ikut konvoi?" ungkapnya.

Ia berjanji segera memanggil Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan terkait aksi konvoi berlebihan yang dilakukan ribuan siswa di Pamekasan. Karena, menurut dia, yang bertanggung jawab mengatur mereka adalah dua instansi pemerintah tersebut.


PAMEKASAN, KOMPAS.com — Konvoi kelulusan siswa tingkat SMA sederajat di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, diwarnai dengan aksi corat-coret baju seragam sekolah dan juga kebut-kebutan motor.

Pemandangan itu tampak di setiap ruas jalan di jantung kota Pamekasan. Kerumunan peserta konvoi paling padat di depan kantor Bupati Pamekasan dan DPRD Pamekasan. Konvoi dikawal oleh aparat kepolisian dari Satuan Lalu Lintas Polres Pamekasan sehingga beberapa ruas jalan sempat terjadi kemacetan.
Dari ratusan peserta konvoi motor, ada beberapa siswa yang menggunakan motor dengan pelat nomor merah. Motor yang digunakan para siswa jenis Honda Win, motor operasional kepala desa.
Bahkan, sebagian siswi peserta konvoi ada yang beraksi dengan menyobek rok dan baju seragamnya. Tidak hanya itu, mereka ada yang terang-terangan merokok di depan peserta konvoi lainnya.
Slamet Gustiantoko, Kepala Seksi Pembelajaran SMA/SMK dan MA Dinas Pendidikan Pamekasan, mengatakan, siswa yang tidak lulus didominasi oleh sekolah swasta. "Mereka praktis akan mengikuti ujian nasional tahun depan, atau mereka ikut ujian nasional Paket C," kata Slamet Gustiantoko.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/05/16/10594410/Lulus.UN.Sobek.Rok.dan.Konvoi.Plat.Merah

Uuu... Inikah sikap para calon penerus bangsa? Inikah sikap pelajar yang terdidik? Inikah yang disebut keberhasilan di dalam dunia pendidikan? Seperti harimau yang dilepas dari kandangnya.

Tapi, syukurnya masih ada saja pelajar yang benar-benar pelajar. Pelajar yang ingin kegembiraan yang dirasakannya dapat dirasakan oleh orang lain.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta merayakan kelulusan dengan cara yang unik dan bermanfaat. Mereka membagikan 600 dus nasi kepada para tukang becak, pedagang asongan, serta pedagang kaki lima di sejumlah tempat di Kota Yogyakarta, Senin (16/5/2011).
Pemandangan ini terlihat di kawasan Kotabaru, Perempatan Tugu, dan di Jalan Jenderal Sudirman. Di dalam kemasan dus nasi tersebut diselipkan kertas bertuliskan: "Tasyakuran Kelulusan Ujian Nasional 2011 Keluarga Besar Padmanaba SMA Negeri 3 Yogyakarta. Mohon doa restu untuk menjalani pendidikan di jenjang perguruan tinggi, semoga menjadi generasi penerus yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama, Amin".
"Daripada mencoret-coret baju tidak ada gunanya, kami memilih dengan cara seperti ini membagikan nasi kotak untuk makan siang bapak-bapak tukang becak dan para pedagang. Ini sebagai wujud syukur kami," ujar Titis, salah satu siswi.
"Kegiatan sosial ini kami lakukan agar bapak-bapak tukang becak dan para pedagang kaki lima, serta pedagang asongan ikut merasakan kebahagiaan kami yang telah berhasil lulus ujian nasional," sambungnya.
Sementara itu, Tukijo, tukang becak yang sedang nongkrong di kawasan perempatan Tugu Yogyakarta, mengaku senang mendapatkan nasi untuk makan siang. "Kegiatan ini bagus daripada konvoi mengganggu lalu lintas dan tidak ada gunanya. Kalau begini ini, kan, kami juga merasakan" ucapnya sambil tersenyum senang.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/05/16/14533030/Lulus.UN.Mereka.Bagi-bagi.Nasi.Bungkus
Ok, tinggal dipilih saja untuk para calon penerus bangsa berikutnya. Ingin meninggalkan sekolah dengan citra seperti yang ada di artikel1-artikel3, atau ingin yang seperti artikel4. Silakan dipilih.

"Orang yang berpikir, bukanlah orang yang melakukan sesuatu hal yang sebabnya hanya karena dukungan mayoritas ataupun sudah tradisi/budaya. Tetapi orang yang berpikir adalah orang yang melakukan sesuatu hal yang karena dia mengetahui, benar atau salahnya hal yang akan dilakukannya."

Wallahu a'lam bish shawaab...
Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...