FKI, BAGI SAYA...

(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh... 

Bagi saya, FKI itu…

Bagaikan tempat mistis yang memiliki daya tarik yang tidak bisa saya logikakan. Saya anggap begitu karena saya sendiri bingung kenapa saya bisa berada di tempat seperti ini. Karena jika mem-flashback masa-masa saya di SMA 7, khususnya di FKI, saya memang termasuk pengurus, namun bukan pengurus aktif seperti yang lain.

Pertama kali bergabung di ROHIS ketika kelas X pun saya tidak jelas kenapa saya mau ikut, padahal jaman saya kelas X, sangat tidak banyak anak kelas X yang ingin gabung di ROHIS. Saya pun sebenarnya lebih ingin ikut PALMA atau PASKIBRA. Tapi malah terjunnya ke ROHIS & PRAMUKA.

Ujung-ujungnya cuma ikutan nimbrung dengan abang-abang senior kelas XI waktu itu setiap ada pertemuan di mushola. Ikut mendengarkan diskusi, tapi tidak paham apa yang didiskusikan. Saat itu saya masih menganggap bahasa abang-abang terlalu tinggi, saya masih tidak bisa menyambung. Kadang ketika saya mendengarkan mereka diskusi, saya berpikir “anak SMA kok yang dibicarakan masalah-masalah berat kayak gitu, jauh sekali apa yang mereka bicarakan”, dalam hati berkata seperti itu. Tapi, justru itu yang kadang bikin saya tertarik, mengetahui cara berpikir mereka.

Seiring berjalannya waktu, ketika saya naik kelas XI, dan saya harus berada di jurusan IPS, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja kawan-kawan seangkatan saya mulai banyak yang sering kumpul-kumpul di mushola, khususnya kawan-kawan dari Pramuka & anak IPA. Dan tiba-tiba saja ketika pemilihan ketua ROHIS, tiba-tiba jadi banyak kawan-kawan angkatan saya yang berkumpul saat itu. Entah mungkin saya yang tidak terlalu mempedulikan atau gimana ya, rasanya semuanya jadi tiba-tiba.

Syukurnya saya tidak terpilih menjadi ketua ROHIS saat itu, menjadi kandidatnya pun tidak, karena selain saya kurang dikenal oleh anak IPA saat itu (karena saat itu sebagian besar pengurus adalah anak IPA) dan juga memang seperti yang saya katakan sebelumnya, bergabungnya saya di ROHIS saat itu tidak punya tujuan yang jelas, tidak pernah berharap menjadi organisator ataupun aktivis. Saya bergabung karena ketidaksengajaan, dan saya masih tetap bertahan di situ karena munculnya kawan-kawan saya, itu yang bikin saya betah, tapi cuma betah kumpul-kumpulnya saja. Waktu masa-masa mentoring untuk kelas X saja, saya tidak pernah dipilih jadi mentor. Setiap hari Jum’at, saya tergolong sebagai pengurus yang kerjaannya cuma lalu lalang di sekitar sekolahan, sementara yang lainnya sedang sibuk mengisi mentoring adik-adik kelas X. Karena memang saya juga tidak terlalu suka bicara depan umum saat itu.

Di kepengurusan saya tidak benar-benar aktif, mungkin bisa dibilang hanya numpang nama saja, tapi realnya saya tidak pernah melaksanakan program-program yang ada, bahkan tau programnya apa-apa pun tidak. Tapi, kalau sudah ada agenda kumpul-kumpul di mushola, tetap ikutan. Begitu selama 2 tahun kepengurusan dari kelas XI-XII, benar-benar tidak terasa apa yang telah saya buat di FKI. Cuma hobi kumpul-kumpul.

Fase yang membuat saya merasa lucu adalah ketika pasca sekolah saya diminta untuk menjadi, sebut saja penanggungjawab ekskul ROHIS. Dipanggil ke sebuah agenda, yang dimana kembali saya tidak tau apa tujuan dari agenda tersebut, saya cuma ikut-ikutan. Lalu, tiba-tiba saya diminta harus terjun kembali ke FKI.

Dalam pikiran saya bertanya-tanya, “KENAPA HARUS SAYA? KENAPA TIDAK YANG LAIN? KAN YANG LEBIH BAIK DARI SAYA BANYAK? KAN BANYAK YANG LEBIH PAHAM. TAPI, KENAPA?” Selama beberapa bulan pertanyaan itu sering saya tanyakan pada diri sendiri & beberapa orang yang terlibat di urusan yang sama. Terlebih lagi saat itu harus berkoordinasi dengan “penanggungjawab senior” yang merupakan akhwat. Akhwat! Bukan sekedar perempuan, tapi AKHWAT! (waktu itu saya masih mengartikan akhwat sebagai wanita muslimah yang baik lagi sopan). Jangankan dengan akhwat, dengan perempuan biasa saja saya sulit untuk berkoordinasi, apalagi yang setingkat akhwat.

Kadang malas juga rasanya, pertama, selain karena harus berkoordinasi dengan akhwat, yang kedua, saya tidak tau apa & kenapa saya harus ada di sini.

Entah berapa lama, mungkin hampir satu tahun saya mencoba mempelajari lingkungan saya ini. Namun, tetap di dalam pikiran masih sering bertanya “KENAPA SAYA!”. Hingga akhirnya, setelah satu tahun , saya “dipindahtugaskan” karena ada amanah lain, untuk fokus urusan LDF di FT. Namun, ketika saya sudah dipindahkan ke LDF, entah kenapa saya malah jadi lebih sering mikirkan FKI, namun bukan berarti saya tidak mementingkan LDF. Entah bagaimana menyebutnya, tapi mungkin karena saya telah termakan statement peraturan “Jika sudah mendapat amanah di kampus, maka tidak boleh mengambil amanah di sekolah”. Itu yang membuat saya menjadi kacau, benar-benar kacau. Raga di kampus, tapi pikiran di sekolah. Jika saja boleh menyebrang, mungkin bisa menghilangkan sedikit kekacauan pikiran saat itu. Ya, akhirnya di sekolah tidak berkontribusi secara maksimal, kampus juga menjadi tidak terurus, karena tadi, pikiran saya lebih memikirkan sekolah, namun raga saya di kampus.

Akhirnya saya belajar, belajar, dan belajar arti semuanya. Hingga akhirnya saya memaknai diri saya sendiri sebagai “KADER LEPAS”. Kader lepas, tidak terikat oleh wilayah, saya bisa ke kampus maupun ke sekolah, ataupun ke tempat lain, terserah saya selama saya masih mampu. Tidak terikat oleh masa, tidak peduli apakah masa saya sudah habis, sudah bukan lagi tanggungan saya, tapi selama saya masih mampu, tidak masalah saya kembali.

Mungkin jadi terlihat seperti “kader” yang tidak taat ya saya ini. Tapi, inilah hasil pembelajaran saya selama ini, yang juga saya jadikan peraturan pribadi saya, “LAKUKAN SEGALA KEBAIKAN YANG BISA DILAKUKAN SELAMA MASIH ADA KESEMPATAN”. Bukankah kita berda’wah bukan untuk orang lain, bukan untuk instansi kita berada, namun DA’WAH ITU UNTUK ALLAH & DIRI SENDIRI. Teringat kata-kata Pak Riadi, salah seorang yang pernah menjadi Murobbi saya :

3 AMALAN YANG AKAN TERUS MENGALIR PAHALANYA MESKIPUN TELAH MENINGGAL, 1.DO’A ANAK YANG SHOLEH, 2.ILMU BERMANFAAT, 3.AMAL JARIYAH. UNTUK POINT 1 MUNGKIN SEKARANG ANTUM BELUM MEMILIKINYA, TAPI ANTUM BISA MEMILIKI POINT 2 & 3. MAKA, RUGI ANTUM JIKA TIDAK PUNYA BINAAN, KARENA BINAAN MERUPAKAN ASET ANTUM UNTUK DI AKHIRAT NANTI, UNTUK MENYEBARKAN ILMU YANG BERMANFAAT.”

Saya tidak peduli jika memang ada yang melarang, jika saya bisa kenapa saya lewatkan kesempatan saya. Toh saya juga tidak mengajak orang lain kepada teroris, tidak mengajak orang lain seperti para MLM-er yang bersemangat untuk mencari prospekan karena demi materi, tidak mengajak orang lain seperti para politikus demi meraup suara/dukungan kemenangan. Bosan dengan peraturan manusia yang justru membuat rumit hal-hal yang mudah, padahal itu untuk kebaikan.

Dan, akhirnya saya menemukan jawaban atas keberadaan saya di FKI, yaitu “SEMUA KARENA INSYAALLAH/ALLAH BERKEHENDAK”. Sebagus apapun diri, jika ALLAH belum berkehendak, maka tidak akan dapat kesempatan tersebut. Percuma menghabiskan waktu mencari jawaban yang tidak pernah kunjung tiba, lebih baik memfokuskan diri untuk memikirkan kondisi yang sekarang. ALLAH menitipkan amanah ini kepada saya, maka tugas saya untuk menjaganya sampai ALLAH mengambilnya kembali.

Lucu rasanya ketika saya harus mengarahkan adik-adik dalam melaksanakan program kerja FKI, sementara saya sendiri dulu di masa saya tidak pernah berkontribusi apa-apa. Dan mungkin ALLAH memberikan kesempatan ini agar saya bisa “membalaskan dendam” saya atas masa-masa yang telah saya lewati dengan sia-sia dulu. Minimal tujuan saya di FKI bisa semakin dekat, yaitu membuat FKI menjadi “Islamic Centernya SMAN 7 Pontianak.

Dan, terima kasih buat ALLAH yang telah mengizinkan saya untuk mengurusi FKI, meskipun dengan segala kekurangan yang saya miliki. FKI menjadi titik awal perubahan diri saya. Karena jika ALLAH tidak mempertemukan saya dengan FKI, saya mungkin lebih parah daripada kondisi saya yang sekarang. Ya, lebih parah, karena saya tau bagaimana diri saya sebenarnya. “Dipaksa” untuk memperbaiki orang lain, maka sama saja artinya harus “memaksa” diri sendiri untuk menjadi lebih baik. PAKSAKAN! 

Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...