(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa
barokaatuh...
Kemana, kemana, kemana…
Haha… Ini bukan lirik lagu “Salah
Alamat” ya. LANJUUUUT!
Kemana, kemana, kemana…
Kemana harus kemana…
Di saat adik-adik mengharapkan
arahan dari yang lebih berpengalaman, kemana?!
Di saat adik-adik ingin berbagi
cerita tentang masalah dirinya, kemana?!
Di saat adik-adik bermimpi
mengadakan event besar & bermanfaat, tapi terkendala biaya, kemana?!
Di saat adik-adik ingin menyampaikan
aspirasi inspirasinya, kemana?!
Tidak cukupkah mendengar
pemberitaan media tentang “ROHIS menjadi sarang teroris”!
Tidak cukupkah menyaksikan event-event
yang diadakan hanyalah sibuk & lelah yang mereka dapatkan!
Tidak cukupkah melihat banyak
dari mereka lebih memilih agenda yang asik-asik daripada agenda bermanfaat?!
Kemana kalian ya wahai para
alumni aktivis da’wah sekolah?
Sudahkah tidak ada lagi cinta untuk
da’wah sekolah seperti yang dulu sering digembar-gemborkan, “Cinta ROHIS”?
Apakah karena sudah alumni, maka itu
berarti menghilangkan status aktivis da’wah sekolah yang pernah ada?
Kemana, yang dulu pernah beranggapan
bahwa sekolah adalah calon-calon tunas bangsa?
Akankah menunggu da’wah sekolah
tinggal sejarah, baru para sesepuh terdahulunya bermunculan?
Taukah kalian berapa jumlah adik-adik
kita yang terekrut di dalam ROHIS untuk menjadi aktivis da’wah sekolah?
Taukah kalian berapa jumlah adik-adik
kita yang menjadi aktivis da’wah sekolah namun tidak terbina, tidak tarbiyah?
Kampus, mungkin terlalu indah
dibandingkan sekolah, karena kini sudah tinggal di kampus.
Miris ketika melihat ROHIS di
sekolah saat ini. Khususnya sekolah di Pontianak. Mulai dari pengelolanya,
SDMnya, agenda-agendanya. Ada apakah?
Ada sekolah yang hanya dikelola
oleh satu orang saja. Tak perlu disebutkan sekolah mana, tapi itu ada. Dan yang
satu orang itu hanya seorang akhwat. Benar-benar akhwat bermental baja. Dimana
ikhwannya?
Ada sekolah yang memiliki banyak
pengurus ROHIS, namun tidak tertarbiyah. Mencari-cari, meminta-minta ke sana
kemari hanya demi kesediaan menjadi mentor/murobbi. Pernahkah kalian ditanya
oleh pengurus ROHIS yang sudah hampir berakhir masa kepengurusannya, “Bisa
tidak mengisi liqo’an kami? Sudah lama kami tidak ada yang membina.” Mereka
butuh, tapi tidak ada yang ingin memperhatikan. Pernah juga ditanya, “Kami (pengurus
ROHIS kelas XII) me-mentoring adik-adik kelas X, tapi kami sendirinya tidak ada
yang membina kami, gimanalah?”
Apakah karena status sekarang
sudah menjadi aktivis kampus, maka hilanglah status sebagai aktivis sekolah.
Atau mungkin karena sudah bekerja, maka juga lupa tentang sekolah. Ketahuilah, adik-adik kita butuh konti
Haha… ‘Afwan, maaf, sorry, jika
ada yang tersinggung. Entahlah apa yang ditulis nih, bukan bermaksud menyindir
aktivis kampus ataupun aktivis lainnya, ataupun membesar-besarkan aktivis
sekolah. Hanya menulis apa yang ingin ditulis. Anggap aja gurauan belaka.
Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa
barokaatuh...