(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...
Namaku Itno (nama samaran), profesiku sekarang adalah sebagai Operator Head Truck (OHT) atau sebut saja supir truk kontainer di PT.Pelindo 2 Pontianak. Dulunya saya bekerja di salah satu dealer service motor di Ketapang, sebagai mekanik otomotif atau sebut saja tukang bengkel motor. Saya bekerja di sana sejak awal saya lulus SMK, sekitar tahun 2008. Penghasilan saya di sana tidak bisa dibilang kecil, karena tidak ingin dikatakan tidak mensyukuri, tidak juga bisa dikatakan besar, karena memang kondisinya dirasa kurang. Rp300.000 per bulan, itu penghasilan saya di sana. Bisa dibayangkan, tinggal di daerah, harus ngekost, dengan mengharapkan gaji segitu saja. Cukup sih cukup, tapi ya dicukup-cukupkan.
Seiring berjalannya waktu, yang namanya manusia, tentulah ada rasa ketidakpuasan, apalagi dengan kondisi yang pas-pasan. Hingga akhirnya saya menemukan "celah-celah" untuk mendapatkan can (uang sampingan) lain di tempat kerja saya. Tak perlu saya jelaskan apa saja yang saya lakukan, tapi yang pasti sebagian besar can yang saya dapat, didapat dari hasil yang tidak baik. Hingga dalam setahun saya bisa memiliki tabungan sebesar 20 juta rupiah. Bisa dibayangkan, dengan gaji Rp300.000 sebulan, ataupun kalau setiap beberapa bulan ada peningkatan gaji, hingga maksimal-maksimalnya Rp600.000, sangat mustahil bisa memiliki tabungan dari hasil kerja sebesar 20 juta rupiah. Ya, tidak lain dan tidak bukan, sebagian besar tabungan 20 juta itu saya dapat dari hasil can yang ada di tempat kerja saya.
Dulu, saya tidak punya niatan untuk memutar uang saya untuk membangun usaha, tapi saya lebih fokus mengumpulkan uang untuk tujuan nikah. Hingga akhirnya, pada pertengahan tahun kedua saya bekerja di sana, saya bertemu dengan seorang wanita, sebut saja namanya Rani. Orangnya, biasalah. Tapi, sebiasa-biasanya, bagi saya tetap istimewa. Awalnya, kami kenal-kenal begitu saja. Lalu, suatu ketika saya mencoba memberanikan diri bertanya :
Itno : Mau jadi pacar aku tidak?
Rani : Mau
Itno : Kalau langsung nikah dengan aku?
Rani : Boleh
Itno : Dengan pekerjaan aku yang kayak gini dan penghasilannya tidak besar?
Rani : Gak masalah
Itno : Kalau suatu saat saya dipecat gimana?
Rani : Gak masalah. Kalaupun abang sekarang gajinya kecil ataupun nanti dipecat dari kerjaan abang yang sekarang, Rani yakin kok, abang bakal tetap nyari kerjaan yang lebih baik, biar bisa ngasi makan Rani & anak-anak kita nanti. Yang penting tetap kerja kan.
Karena kata-kata itu, ku bisa menerimanya karena ku yakin dia tidak memandang apa yang kumiliki. Semenjak saat itu, saya membulatkan komitmen ingin mengenalkannya dengan keluarga saya di Pontianak ketika tahun baru 2011, agar segera mendapat restu dari orang tua. Sebelum melanjutkan cerita saya sedikit menceritakan bahwa saya sangat hobi gonta ganti motor, sehingga di sana saya sudah 3 kali gonta ganti jual beli motor. Motor pertama yang saya bawa dari rumah di Pontianak, saya jual, ganti motor baru. Tidak lama kemudian, sekitar 2 mingguan, saya jual kembali motor saya, dan membeli motor matic. Ya, tentunya dengan uang tabungan yang sudah lebih dari 20 juta yang saya ceritakan sebelumnya.
Namun ternyata, segalanya saling berhubungan.
Beberapa minggu setelah saya membeli motor matic, saya mengajak jalan si Rani. Jalan-jalan bersama beberapa kawan saya yang lainnya. Si Rani berboncengan di belakang saya. Saat itu, dia tidak memakai helm. Ketika di tengah perjalanan, ada seorang ibu mengendarai motor di depan saya. Ibu itu mengendarai motor dengan cara yang agak meragukan, melambat seperti ingin berbelok, tapi di tengah terus. Hingga saya mengambil kesimpulan, mungkin ibu itu hanya berjalan santai, tidak ingin belok. Sehingga saya menyalibnya. Naasnya, ketika saya menyalibnya, ternyata ibu itu tiba-tiba berbelok. Hingga akhirnya ujung depan motor saya tersenggol depan motor ibu itu. Dan motor saya pun tersungkur ke samping jalan dekat trotoar. Saya terbangun dari jatuh, melihat ibu itu tidak apa-apa, hanya sedikit lecet di tangannya, tapi sayang tidak dengan Rani. Kulihat kepalanya berdarah, dan dia masih terbaring. Mungkin karena kepalanya yang tidak menggunakan helm membentur trotoar. Kemudian aku memanggil teman saya. Lalu saya membopong Rani sambil dibonceng oleh sahabat saya untuk ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan, aku sudah memiliki firasat tidak enak. Mulut mengeluarkan batuk darah terus menerus, hingga sisi pundak pakaianku penuh akan darahnya. Sementara dari telinganya juga mengeluarkan darah terus menerus.
Dulu, saya tidak punya niatan untuk memutar uang saya untuk membangun usaha, tapi saya lebih fokus mengumpulkan uang untuk tujuan nikah. Hingga akhirnya, pada pertengahan tahun kedua saya bekerja di sana, saya bertemu dengan seorang wanita, sebut saja namanya Rani. Orangnya, biasalah. Tapi, sebiasa-biasanya, bagi saya tetap istimewa. Awalnya, kami kenal-kenal begitu saja. Lalu, suatu ketika saya mencoba memberanikan diri bertanya :
Itno : Mau jadi pacar aku tidak?
Rani : Mau
Itno : Kalau langsung nikah dengan aku?
Rani : Boleh
Itno : Dengan pekerjaan aku yang kayak gini dan penghasilannya tidak besar?
Rani : Gak masalah
Itno : Kalau suatu saat saya dipecat gimana?
Rani : Gak masalah. Kalaupun abang sekarang gajinya kecil ataupun nanti dipecat dari kerjaan abang yang sekarang, Rani yakin kok, abang bakal tetap nyari kerjaan yang lebih baik, biar bisa ngasi makan Rani & anak-anak kita nanti. Yang penting tetap kerja kan.
Karena kata-kata itu, ku bisa menerimanya karena ku yakin dia tidak memandang apa yang kumiliki. Semenjak saat itu, saya membulatkan komitmen ingin mengenalkannya dengan keluarga saya di Pontianak ketika tahun baru 2011, agar segera mendapat restu dari orang tua. Sebelum melanjutkan cerita saya sedikit menceritakan bahwa saya sangat hobi gonta ganti motor, sehingga di sana saya sudah 3 kali gonta ganti jual beli motor. Motor pertama yang saya bawa dari rumah di Pontianak, saya jual, ganti motor baru. Tidak lama kemudian, sekitar 2 mingguan, saya jual kembali motor saya, dan membeli motor matic. Ya, tentunya dengan uang tabungan yang sudah lebih dari 20 juta yang saya ceritakan sebelumnya.
Namun ternyata, segalanya saling berhubungan.
Beberapa minggu setelah saya membeli motor matic, saya mengajak jalan si Rani. Jalan-jalan bersama beberapa kawan saya yang lainnya. Si Rani berboncengan di belakang saya. Saat itu, dia tidak memakai helm. Ketika di tengah perjalanan, ada seorang ibu mengendarai motor di depan saya. Ibu itu mengendarai motor dengan cara yang agak meragukan, melambat seperti ingin berbelok, tapi di tengah terus. Hingga saya mengambil kesimpulan, mungkin ibu itu hanya berjalan santai, tidak ingin belok. Sehingga saya menyalibnya. Naasnya, ketika saya menyalibnya, ternyata ibu itu tiba-tiba berbelok. Hingga akhirnya ujung depan motor saya tersenggol depan motor ibu itu. Dan motor saya pun tersungkur ke samping jalan dekat trotoar. Saya terbangun dari jatuh, melihat ibu itu tidak apa-apa, hanya sedikit lecet di tangannya, tapi sayang tidak dengan Rani. Kulihat kepalanya berdarah, dan dia masih terbaring. Mungkin karena kepalanya yang tidak menggunakan helm membentur trotoar. Kemudian aku memanggil teman saya. Lalu saya membopong Rani sambil dibonceng oleh sahabat saya untuk ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan, aku sudah memiliki firasat tidak enak. Mulut mengeluarkan batuk darah terus menerus, hingga sisi pundak pakaianku penuh akan darahnya. Sementara dari telinganya juga mengeluarkan darah terus menerus.
Sesampainya di rumah sakit, langsung dibawa ke UGD. Rani masih sempat dirawat saat itu. Dan untuk sementara aku menunggunya hingga keluarganya datang. Ketika aku masuk ke dalam ruangan, dan berada di dekatnya, ku pegang ujung-ujung jari kakinya, dan terasa begitu dingin. Dari situ aku sudah pasrah. Aku bukan dokter, tapi aku bisa memperkirakan kondisinya saat itu. Dan aku pun pasrah, sambil berbisik pelan sendiri dalam kekakuan diri meski berat rasanya, "Rani, aku pasrah sudah, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Jika ingin pergi, pergilah."
Hingga menjelang subuh, keluarganya tiba di rumah sakit. Seketika itu ruangan menjadi penuh haru. Dan keluarganya pun, khususnya orang tuanya sudah mempasrahkan. Ya, tepat pada subuh. Rani sudah dinyatakan meninggal. Dan setelah itu pula, aku diciduk oleh polisi. Ditahan selama 11 hari di kantor polisi bagaikan penjahat. Aku tidak sempat melihat Rani dimakamkan.
Hanya dalam beberapa hari itu, tabungan yang saya miliki 20 jutaan lebih, habis dalam seketika. Untuk membayar ganti rugi orang yang ditabrak, membayar biaya rumah sakit & pemakaman Rani, membayar denda kepada kantor polisi. Benar-benar sesuatu yang sangat tidak dikira. Padahal tinggal 3-4 bulan lagi tahun baru tiba, dan aku ingin mengenalkan Rani kepada keluarga saya, tapi...
Motor matic yang menjadi saksi bisu pun akhirnya ku jual untuk menutupi kekurangan bayar ini bayar itu akibat tragedi tersebut. Sekeluarnya saya dari penjara, untungnya saya masih diterima di tempat kerja saya.
Rani bukanlah orang yang terlalu terkenal, tapi dia memiliki banyak teman. Sehingga tragedi itu menjadi tragedi yang cukup menggemparkan daerah Ketapang saat itu, karena info dari mulut ke mulut. Bahkan, warga di sekitar rumah saya di Pontianak pun ikut gempar karena berita itu.
Setiap kali aku bertemu teman Rani, aku dipandang bagaikan penjahat kelas kakap. Dan sampai ada yang berkata, "O, kau ni yang buat Rani celaka!". Dan aku pun karena kesalnya berkata,
"Kalau aku tau, dia bakal mati pas sama aku, tadak bakal aku milih nyalib motor di depan aku waktu itu!
Kalau aku tau, dia bakal mati pas sama aku, tadak bakal aku ngajaknya jalan hari itu!
Kalau aku tau, dia bakal mati pas sama aku, tadak bakal aku mau kenal dengannya pas pertama kali ketemu!
Tapi, sayangnya aku tadak tau jalan hidup aku & dia!"
Namun, terkadang dalam lamunanku, mungkin memang benar akulah yang membuat Rani celaka. Itu semua dikarenakan dari harta yang kudapatkan dengan cara yang salah, kudapatkan dengan cara yang instan. Hingga akhirnya habis secara instan pula. Dan bahkan menyebabkan seseorang yang kucintai ikut hilang. Sungguh benar-benar tak kusangka.
Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...