(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...
Ini artikel profil sebenarnya udah lama sekali, udah banyak di situs-situs lain, tapi biarpun sudah lama, tetap masih memberikan hikmahnya di pikiran saya, jadi saya publish saja di blog saya, daripada saya baca di situs orang, mending saya baca di situs sendiri, hehe. Silakan dibaca (kalau ada yang sempat tergelincir ke blog saya) & dipikirkan, kisah seorang akhwat tangguh yang belum pernah saya kenal ini.
Keluarga Ming-Ming
Ming Ming Sari Nuryanti, pangilannya Muna. Ia lahir di Jakarta, 28 April 1990 sebagai putri pertama dari tujuh bersaudara pasangan Syaepudin (45) dan Pujiyati (42). Syaepudin, ayahnya, adalah seorang karyawan di sebuah tempat hiburan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Setiap hari ia mengumpulkan bola bowling. Sementara ibunya, Pujiyati, adalah seorang ibu rumah tangga sederhana. Lisa, adiknya yang pertama, duduk di bangku kelas 3 SMU Negeri I Rumpin. Melati, adiknya yang kedua, duduk di bangku kelas 2 di SMU yang sama. Kenny, adiknya yang ketiga, duduk di bangku kelas 6 SD Sukajaya. Sementara tiga adiknya yang lain juga masih sekolah di sekolah yang sama. Romadon di kelas 5, Rohani di kelas 4, dan Mia di kelas 1.
Pada tahun 1994, dengan ekonomi yang pas-pasan Muna bersama keluarganya mengontrak rumah sangat sederhana di daerah Kosambi, Cengkareng. Orang tua Muna menggeluti usaha rempeyek untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang memang hasilnya tidak menjanjikan. Disela kehidupan yang cukup prihatin, Muna yang pada waktu itu masih berusia 4 tahun menunjukan potensi dirinya yang berbeda dengan anak-anak lainnya.
Dalam usia yang sedini ini, ia memaksa orang tuanya untuk memohon kepada kepala sekolah SDN 02 Kosambi agar menerimanya sebagai murid kelas 1. Hasilnya menggembirakan, ia tidak mengalami masalah dan bahkan dapat naik ke kelas 2 dengan hasil yang memuaskan.
Saat Muna beranjak kelas dua, yaitu tahun 1996 Muna bersama keluarga hijrah ke daerah Bogor, Rumpin. keluarga mereka membuka usaha warung makanan dengan modal yang pas-pasan. Setahun berjalan, usaha itu bangkrut. Hingga untuk bisa bertahan hidup mereka hanya mengkonsumsi bubur atau singkong. Hal itu berlanjut hingga lima tahun.
Suatu hari, ada seorang teman ayah Muna yang memberitahu bahwa gelas dan botol bekas air mineral dapat dijadikan uang . Saat itu juga serentak seluruh keluarga mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral. Hampir setiap hari keluarga mereka berbondong-bondong keluar sambil membawa karung dan terkadang pulang hingga jam tiga pagi. Gelas bekas yang dikumpulkannya ini dihargai delapan ribu rupiah untuk setiap kilonya. Dalam sehari Muna dapat mengumpulkan sebanyak satu karung gelas plastik bekas atau seberat satu kilo gram.
Dari usaha yang baru ini membawa sedikit angin segar bagi keluarga Muna, terlebih bagi dirinya sendiri yang memang sangat bersemangat untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya. Dalam keadaan yang sulit sekalipun prestasi belajarnya cukup menggembirakan. Semenjak SD hingga SMU Muna selalu mendapat peringkat tiga besar. Sebelum meninggalkan bangku SMU ia pernah mendapat juara 2 lomba puisi dan ia pun masuk kedalam sepuluh besar lomba membawakan berita pada peringatan hari bahasa pada waktu itu.
Pada bangku kuliah pun ia masuk dalam peringkat sepuluh besar pada Universitas Pamulang jurusan akuntansi. Potensi inilah yang membakar semangatnya dan memperoleh dukungan keluarga untuk terus belajar.
Bangku Kuliah
Tahun ajaran 2007-2008 masih dalam keadaan cukup prihatin Muna memberanikan diri mencicipi bangku kuliah. Tekadnya bulat untuk memilih jurusan akuntansi yang dalam benaknya dapat memudahkan mencapai cita-citanya untuk dapat bekerja pada Bank Indonesia. Dengan biaya kuliah Rp. 900.000 per semester dapat dicicilnya setiap bulan sebesar Rp. 150.000. Jadi, apabila ia ingin kuliah maka ia pun harus bekerja keras siang malam.
Semangat dalam belajar dan bersabar dalam meniti jalan kehidupannya membuat Muna dapat dikatakan memiliki suatu yang lebih diantara kawan sebayanya. Meskipun terkadang hanya makan sekali dalam sehari tidak membuatnya kehilangan energi dalam menuntut ilmu. Muna yang memang dikenal juga anak yang pandai bergaul dan periang ini bergabung bersama kawan-kawannya di UKM MUSLIM. Keprihatinan yang dialami keluarga Muna baru diketahui ketika kawan-kawannya berkunjung ke rumahnya.
Semenjak itu, ia semakin mendapat perhatian dari pengurus UKM MUSLIM dan kawan-kawannya dengan memberinya bantuan yang memang jumlahnya belum cukup signifikan.
Ust. Harist, salah seorang Pembina MUSLIM merekomendasikan Muna untuk mendapat bantuan beasiswa melalui DPU DT. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi akhirnya Muna lolos menjadi anggota program BEA MAHAKARYA DPU DT. Dalam program BEA MAHAKARYA ini selain mendapat bantuan finansial ia juga memperoleh serangkaian pendidikan dan pelatihan yang dapat menjadi bekal bagi dirinya kedepan. Muna terlihat semakin optimis mengejar cita-citanya. Selain itu pula atas usaha dan dukungan kawan-kawannya ia dapat diliput dibeberapa media cetak dan elektronik yang mudah mudahan dapat dijadikan pintu keluar bagi keprihatinan yang ia alami sekeluarga selama ini.
Akhwat Tangguh, MAPALA Sejati
(Tahun 2007-2008)
Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1, jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa terpandai di kelasnya.
Saat kelas usai, dia pergi ke perpus.
“Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.”
Itu alasan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain.
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.
Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan.. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.
Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal dengannya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu.
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Isu NII pun "Menyenggol" seorang Ming Ming Sari Nuryanti
Merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) sudutkan dan dzolimi umat Islam. Media sekuler yang Islamphobia (anti/takut Islam) ikut memperkeruh suasana dengan pemberitaan yang menyudutkan dan tendensius. Salah satu kasusnya adalah isu "penyekapan" Rohani Nurfitri (adik kelima Ming Ming yang berumur 12 tahun) oleh NII yang kemudian berhasil meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang. Media-media sekuler menurunkan judul yang provokatif dan menjerumuskan opini masyarakat dengan mengaitkan apa saja dan siapa saja kepada isu NII.
Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) yang dikatakan telah dihipnotis dan disekap oleh jaringan NII, yang akhirnya meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang.
Metrotvnews.com di hari yang sama, Jum’at (29/4) menurunkan berita tersebut dengan judul "Seorang Gadis Cilik Pulang setelah Disekap 4 Tahun". Dalam berita yang ditulis oleh Nur Cholis/RNN tersebut terlihat sumber berita baru dari satu pihak, yakni pihak Rohani Nurfitri. Pihak yang dituduhnya sebagai jaringan garis keras dan yang telah mendoktrin Nurfitri sama sekali tidak ditanyakan. Metrotvnews.com juga tidak mengkonfirmasi masalah Nurfitri kepada kakak-kakaknya yang juga dituduhkan hilang.
Media Indonesia on line lewat wartawannya Dede Susianti bahkan menulis pada hari Sabtu (30/04/2011) dengan judul lebih tendensius lagi memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Dia menulis dengan judul "Disekap Wanita Bercadar, Rohani Berhasil Kabur". Dalam tulisan tersebut, disamping tidak akurat dengan mengatakan Rohani kembali ke pangkuan ayahnya bersama tiga saudara kandung lainnya, juga tidak mengkonfirmasi kepada pihak yang dituduhnya. Bahkan dengan seenaknya wartawan dengan kode OL-5 ini menuduh Rohani direkrut jaringan yang mengajarkan aliran sesat!
Konyolnya lagi, pada hari Senin (2/05/2011) harian Media Indonesia dengan wartawan yang sama, Dede Susianti, menurunkan tulisan dengan judul “Penyekapan Korban Hipnotis di Pamulang” yang dengan tendensius mengarahkan polisi agar segera bertindak. Bukti-bukti sudah cukup kuat, tapi polisi belum juga mengetok pintu rumah tempat penyekapan Rohani Nurfitri, korban hipnotis, tulis Media Indonesia.
Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Bachrumsyah, pemilik rumah yang selama ini menampung Rohani Nurfitri, kemarin, Ahad (1/05/2011) wartawan Media Indonesia yang mendatangi rumahnya bernama Afri, seorang lelaki berusia sekitar 28 tahun, bukan Dede Susianti. Pria bernama Afri ini kemudian bertanya panjang lebar tentang kasus Rohani Nurfitri yang diisukan disekap olehnya dan juga dihipnitos. Bachrumsyah sudah membantah isu hipnotis dan menjelaskan bahwa Rohani Nurfitri ditampung di rumahnya atas permintaan kakaknya, Ming Ming Sari Nuryanti alias Ukhti Muna yang telah dibantu sebelumnya. Anehnya lagi, seluruh hasil wawancara Bachrumsyah dengan lelaki bernama Afri yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia ini tidak satupun yang dimuat dalam berita yang diturunkan Media Indonesia, Senin (2/05/2011).
Jadi, siapa sebenarnya Afri? Apakah dia juga berarti Dede Susianti?
Selain dua media di atas, dua media sekuler lainnya juga ikut-ikutan mendiskriditkan umat Islam. Liputan6.com menulis dengan judul "Bocah Belasan Tahun Kabur dari NII". Berita yang diturunkan hari Sabtu (30/04/2011) ini secara serampangan menduga Rohani sebagai korban perekrutan jaringan kelompok Negara Islam Indonesia atau NII.
Harian Warta Kota, yang termasuk dalam jaringan media Kompas Gramedia bahkan secara lebay menurunkan tulisan di hari Senin (2/05/2011) dengan judul "ABG Disekap NII 3 Tahun". Wartawannya Wid/kompas.com menulis : Rohani Nurfitri (12) berhasil meloloskan diri dari kelompok yang diduga aktivis Negara Islam Indonesia (NII) setelah disekap selama 3 tahun. Ia direkrut oleh kakak-kakaknya sendiri yang sudah lebih dulu dijerat NII.
Sama, semua media sekuler ini hanya bersumber dari satu pihak, yakni pihak Rohani Nurfitri saja dan ayahnya. Tidak ada klarifikasi dari pihak yang dituduh menyekap dan terkait NII, yakni pihak Bachrumsyah dan Ming Ming Sari Nuryanti. Kalaupun ada wawancara ke Bachrumsyah dari Media Indonesia, ternyata semua hasil wawancara tersebut tidak satupun yang dimuat. Sungguh. media-media sekuler yang Islamphobia tersebut telah bersikap diskriminatif dan tendensius menuduh dan mendzolimi umat Islam!
Bachrumsyah : “Aliran kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah”
Bachrumsyah, lelaki yang dituduhkan menyekap Rohani Nurfitri menyatakan ke Arrahmah.com bahwa semua itu adalah dusta dan upaya mendiskriditkan dirinya yang memang aktif berdakwah dan melakukan aksi sosial lainnya. Kepada wartawan Media Indonesia yang datang ke rumahnya juga sudah disampaikan bahwa dia tidak pernah menghipnotis Nurfitri, menyekapnya, dan mengekangnya. Nurfitri dititipkan kepadanya oleh kakak-kakaknya, termasuk Ming Ming Sari Nuryanti, akibat ayah mereka kerap melakukan tindakan kekerasan.
Bachrumsyah mengungkapkan bahwa Rohani Nurfitri tidak pernah dilarang untuk keluar rumah, dan banyak tetangga yang bisa dijadikan saksi. Nurfitri juga disekolahkan, meskipun akhirnya dia sendiri yang menolak melanjutkan sekolah tersebut. Jadi, tidak benar berita yang mengatakan bahwa Nurfitri dikekang tidak boleh keluar kemana-mana.
Hal di atas dibenarkan oleh Ming Ming Sari Nuryanti kepada Arrahmah.com, bahkan dengan menunjukkan sebuah Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Syaefudin, ayah Ming Ming dan juga ayah Rohani Nurfitri, di atas materai tertanggal 5 Oktober 2008. Dalam surat peryataan tersebut, Syaefudin, ayah Rohani Nurfitri berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut, yakni melakukan kekerasan/pemukulan terhadap anak-anaknya!
Ketika ditanya oleh Afri, lelaki yang mengaku wartawan Media Indonesia, “apa alirannya”, Bachrumsyah menjawab bahwa aliran dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mengikuti salafus sholeh, bukan NII. Bachrumsyah juga ditanya siapa pemimpinnya yang menggerakkan dirinya selama ini, apakah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, atau Ustadz Abu Jibriel, dan dijawabnya bahwa yang mengatur hidupnya selama ini adalah Al Qur’an.
Ming Ming Sari Nuryanti, secara khusus bahkan telah menulis bantahan yang juga diserahkan kepada Arrahmah.com untuk dipublikasian. Dalam bantahannya tersebut dia mengatakan :
"Bismillah… Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi WabarakaatuhSaya Ming Ming sari Nuryanti dan kedua adik saya yaitu Lisa dan Melati dalam keadaan sehat wal afiat dan Allah masih berkenan melindungi kami, ini semua karena nikmat dan karunia Nya. Menanggapi pemberitan sepihak (metro tv, media Indonesia dan situs-situs internet) yang sedang berkembang tentang saya dan kedua adik saya, maka saya katakan…. Astaghfirullah, ini adalah berita bohong dan fitnah yang kejam!Ketahuilah untuk semua (yang menginginkan kebenaran) baik yang sudah terlanjur termakan isu fiktif+fitnah itu, atau yang masih ragu atau juga yang belum tahu, inilah fakta, inilah kebenaran…. Sungguh kehidupan saya sebenarnya teramat sangat ironis dan miris. Awalnya saya malu, teramat malu, takut, tidak ada keberanian untuk mengungkap ini semua kepada publik, karena saya menganggap hal ini (perilaku orang tua) adalah aib…. Aib keluarga.!! Akan tetapi setelah setelah segala peristiwa kemungkaran dan kedzaliman yang menimpa, mendera diri saya dan adik-adik saya telah merambah pada masalah aqidah, maka saya berani untuk mengungkapkan hal sebenarnya. Ini semua saya lakukan tidak bermaksud sebagai justifikasi/pembelaan diri, tapi sebagai klarifikasi dan yang saya ungkapkan ini semata-mata saya ingin membela syariat-Nya, Dien-Nya, yang dicemooh, dicaci dan dihinakan.
Kronologi sebenarnya di Bulan ramadhan dan awal Syawal yang kelabu (2008)Berawal saya berpisah dengan keluarga saya, bukan lantaran saya kabur/minggat/melarikan diri. Akan tetapi berawal dari pengusiran! PENGUSIRAN LANGSUNG yang dilakukan langsung oleh bapak Saepudin alias Ujang, yang diawali kekerasan secara fisik dan ancaman berupa kematian! Yang merasakan tindak kezaliman dari pak Ujang bukan saya sendiri akan tetapi ibu pujianti dan adik-adik saya pun tidak luput dari kebrutalan dan kekejamannya! Pengusiran dan tindak kedzalimannya disebabkan karena protes saya terhadap egois diri dan tindakan ekspoitasi pak ujang terhadap saya dan adik-adik. Karena sikap saya yang menunjukan keberanian dalam memprotes menyebabkan pak ujang emosi tak terkendali hingga menimbulkan kemarahan dan kebencian yang luar biasa hingga berujung pada penganiayaan dan pengusiran! Harap diketahui kekerasan yang dilakukan pak Ujang bukan sekedar tempeleng/tamparan, tapi tonjokan, tendangan, injakan kepala, cekikan dan bantingan! Yang merasakan tindakan tersebut tidak hanya saya melainkan Ibu Pujiati dan adik-adik saya juga merasakan berbagai siksaan yang dihantamkan oleh pak Ujang.
Dan untuk masalah Rohani, yang sekarang ini menjadi bahan berita yang dieksploitasi dan ditunggangi akan sebuah kepentingan yang bermaksud untuk menyudutkan (lagi-lagi) ajaran dan Syariat Islam. Sungguh benar-benar kedustaan yang tiada habisnya yang dilontarkan oleh pihak bapak Syaepudin. Saya pikir, setelah sekian lama ditingalkan oleh anak-anaknya dia akan bertaubat dan menjadi hamba Allah yang baik, menjadi orang tua yang baik… ternyata kenyataan berkata lain, justru malah semakin brutal, membabi buta, berkoar-koar bicara kebohongan dihadapan media, ya begitulah dia setiap ada momen tentang berita yang menyudutkan ajaran Islam, dia selalu berusaha untuk tampil sebagai aktor.
Tak henti-hentinya dalam pikirannya, dalam otaknya adalah makar jahat agar ajaran Islam tercoreng, tercemar, diobrak-abrik oleh kejahatan lisannya, sungguh dia sangat menikmati apa yang disampaikannya kepada media, karena itulah keinginannya menjadi orang yang dikenal agar dikasihi untuk mendapatkan simpatik masyarakat, terutama mendapatkan penghasilan tambahan, isi kantongnya. Dendamnya dia karena tidak berhasil untuk mempengaruhi saya mengikuti untuk cara hidupnya yaitu memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi, menjadikan anak-anak nya sebagai pundi-pundi hartanya. Saat inilah dia merasa saat yang tepat untuk mencairkan cek kosong nya agar menjadi berharga.
Ketahuilah sejak peristiwa yang memilukan tersebut serta adanya ishlah yaitu berupa penyerahan hak atas diri saya dan kedua adik saya untuk dapat hidup mandiri terlepas dari kekejaman orang tua, maka saya pergi meninggalkan rumah bersama adik-adik saya (Lisa dan Melati) adapun tiba-tiba adanya Rohani dalam kepergian saya itu diluar sepengetahuan saya, saya terkejut ketika masuk dalam kendaraan di bawah jok mobil rohani bersembunyi dan memaksa ikut pergi bersama saya. Saya melarangnya dan menyuruhnya untuk kembali saja ke rumah, karena dia masih kecil dan di luar perjanjian saya dengan keluarga. Keluarga mengizinkan saya boleh pergi bersama adik-adik saya yang besar sedangkan yang kecil tidak boleh ikut. Saat itu Rohani berusia sekitar Sembilan tahun kurang. Akan tetapi ketika saya larang untuk ikut saya dia malah menangis, katanya tidak mau ikut orang tua yang kejam.
Saya tidak tega, masa saya tega membiarkan dia di tengah jalan??? Maka akhirnya dengan keadaan terpaksa saya mengiyakan untuk ikut saya dengan syarat tidak boleh nakal, harus mau menjadi anak yang baik dalam bimbingan Al Qur’an dan Sunnah. Dan dia pun mengiyakan, setelah itu saya anggap selesai tidak ada apa-apa lagi. Akan tetapi….. lagi-lagi masalah menerpa diri saya.
ROHANI BERBUAT FITNAH DAN ULAHSaya pikir Rohani benar-benar akan menjadi anak yang baik, anak yang sholihah, akan tetapi justru menjadi anak yang sebaliknya. Rohani berubah menjelma menjadi anak kecil yang pembohong dan penebar fitnah. Entah siapa yang merasuki pikirannya, sehingga dia menjadi jahat dan licik, serupa dengan bapak Syaepudin dan Ibu Pujiati. Semua yang dikatakannya adalah bohong. Kenapa dia tidak bilang kalau merasa terpaksa ikut dengan saya?? Padahal awalnya dialah yang memaksa ikut.
Disiniah adanya ketidakberesan di dalam pikirannya. Kalau dia disekap pastinya 24 jam dia terkurung di dalam ruangan, kenapa bertahan bertahun-tahun???? Dan sudah tentu dia kurus kering kerontang, cobalah anda lihat tubuhnya sekarang.!! Sepengetahuan saya, rohani tidak tahu istilah sekap/penyekapan, ini adalah istilah baru yang baru dia dapatkan dan ada yang mengajarkannya, tentunya yang mempengaruhi dia setelah dia pergi dari rumah Buya (orang yang saya titipkan Rohani). Lucu dan aneh…. Orang disekap bisa bebas keluar masuk rumah dengan sendirinya, pergi ke pasar, main ke rumah tetangga, membeli makanan dan sebagainya.
Kalau orang yang memiliki pikiran yang waras pasti dia berpikir ini adalah lelucon, sandiwara belaka dan basi. Dan pengakuannya tentang kakak-kakak nya yang disekap pula lagi-lagi dia ngibul dan ngelantur, Rohani sangat hafal dimana dia tinggal selama di pamulang, tidak mungkin dia tidak ingat. Kecuali tiba-tiba dia menjadi lupa ingatan. Masalah cadar itu adalah keinginan dia sendiri untuk memakainya mengikuti kakak-kakaknya yang memang sudah bercadar, siapa bilang bahwa dia dipaksa??? Kami tidak pernah memaksanya dan Rohani tidak pernah didoktrin, memang dia pada awalnya sudah membenci orang tuanya yang dianggap kejam oleh dirinya maka untuk apa doktrin-doktrin segala, ini adalah sebuah fakta sebenarnya.
Jadi rohani tidak pernah disekap, tidak pernah dianiaya, dan tidak ada yang namanya doktrinisasi. Kalau bicara doktrin sekarang inilah rohani telah didoktrin oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pasca kepergian dia dari rumah Buya (kak Bachrum/orang yang saya titipkan Rohani). Padahal saya menitipkan Rohani kepada buya hanya sementara, dan akan saya bawa kembali. Sebelum saya datang untuk kembali membawanya, tiba-tiba ada kabar menghilangnya rohani dari rumah Buya selepas adzan Maghrib berkumandang. Kami sibuk mencarinya, karena nomor handphonenya tidak aktif. Tahu-tahu saya dengar lagi bahwa dia sudah ada bersama warga sekitar dan melaporkan serta mengantarkan dia ke polsek pamulang.
Lucu dan anehnya, warga sekitar mengaku tidak tahu menahu ketika ditanyakan keberadaan Rohani, padahal jelas-jelas mereka mengetahuinya. Karena Rohani kabur tiba-tiba melalui atap rumah dan kepergok (atau sengaja dipergoki warga), Saya tidak tahu apa maksud Rohani berbuat ulah seperti itu, hanya menyusahkan orang lain saja, tidak jelas alasannya apa, dan keinginannya apa. Mungkin ini adalah sensasinya dia agar mendapatkan perhatian, simpatik ditengah ketakutan dia karena kepergok warga merayap diatas rumah dan kemudian menjadi tertekan. Saya menganggap apa yang dilakukan Rohani adalah kenakalan anak-anak yang memang biasa dia lakukan, karna bukan kali ini saja dia tiba-tiba kabur tidak jelas. Sejak kecil dia senang kabur dari rumah apabila keinginannya tidak merasa diperhatikan. Parahnya kini… kenakalan dia yang sudah biasa itu telah ditunggangi, dimasuki bisa racun pikiran jahat orang-orang yang hendak mencari keuntungan, yang memang membenci kami sebagai MUSLIMAH. Yang ada dibelakang Rohani, yang berperan sebagai dalangnya dan yang berperan sebagai penggembira yang bersorak-sorak kegirangan… ketahuilah apa yang kalian lakukan niscaya akan mendapatkan balasan setimpal dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala.
Tertawalah kalian sepuasnya… karna di akhirat kelak kalian pasti akan menangis, meraung-raung sejadi-jadinya karna siksa yang teramat pedih, akibat perbuatan kalian yang mendzolimi hamba-Nya yang berusaha ta’at kepada-Nya dengan menjalani syari’at-Nya. Dan untuk media yang senang menyebarkan berita fiktif dan fitnah hanya untuk mengeruk keuntungan agar mendapatkan rating tinggi, ingatlah kalian pun tidak akan terlepas dari hukuman Allah yang mahaadil dengan apa yang kalian lakukan, yang kalian rekayasa.
Maka saya tegaskan, bahwasanya berita yang berkembang dan menyudutkan itu adalah BOHONG. Kami bukan bagian dari hasil perekrutan dari ajaran-ajaran yang dituduhkan. Ini adalah fitnah….. untuk engkau wahai Rohani, Semola Alah Ta’ala mengampunimu akan fitnah yang sudah engkau perbuat pada orang-orang yang sudah berbuat baik kepadamu, sungguh engkau akan menyesal suatu saat nanti, karena telah berbuat jahat pada orang lain, yang selama ini telah merawat, menjaga, dan memperhatikan serta menyayangimu. Ternyata engkau lebih memilih cara yang salah. Apakah mungkin ini adalah pertanda bahwa Allah telah mencabut hidayah dari dadamu, sehingga engkau menjadi jahat dan tidak mempunyai hati nurani.
Satu lagi, mengapa engkau mengatakan tidak disekolahkan, padahal telah jelas-jelas engkau telah didaftarkan dan menjalani kegiatan belajar mengajar selama sebulan lebih disekolah itu?? Tetapi engkaulah yang meminta keluar…
KEDZALIMAN YANG BERULANG-ULANGSungguh hal ini bukanah kali pertama yang dilakukan pak Ujang, perangai pak Ujang sejak dahulu memeng seperti itu. Dia dikenal sebagai preman! Dan pernah masuk bui karna perangainya yang PREMANISME. Pak Ujang tidak sekedar piawai dalam mendzalimi keluarganya tapi juga piawai bersandiwara/berbohong sehingga mampu menyihir orang-orang (yang tidak tahu perangai asli pak Ujang) menjadi sangat percaya akan segala cerita palsu yang dituturkannya, padahal itu semua dia lakukan untuk menutupi dosa-dosanya!!! Ibu Pujiati, sesungguhnya teramat mengetahui bagaimana perangai sebenarnya pak ujang itu… akan tetapi dia memilih untuk menutupi kesalahan dan dosa-dosa pak Ujang, karena rasa takut yang teramat tinggi yang akhirnya sekarang malah berbalik ikut-ikutan menyerang saya (yang diakuinya sebagai anak) dan membela kebohongan pak Ujang.
Entah saya tidak tahu dimana hati nurani seorang ibu yang sempat melahirkan dan membesarkan anak-anaknya!!! Entah apa yang ada dalam pikiran dan perasaan seorang ibu pujianti, ketika melihat dan menyaksikan sendiri anak-anaknya yang dijadikan bulan-bulanan oleh suaminya sendiri!!! Padahal sejujurnya ini semua adalah murni MASALAH TINDAKAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DAN EKSPLOITASI ANAK akan tetapi pak Ujang mengalihkan masalah KDRT dan eksploitasi anak ini menjadi permasalahan lain, yaitu menjadi masalah kesesatan/radikal/NII. Tidaklah benar jika saya dan adik-adik saya dituduh oleh pak ujang dan ibu pujiati sebagai pengikut aliran sesat/NII/radikal yang mereka tuduhkan kepada kami sebagai penyebab kepergian kami dari rumah.
Sekali lagi kami katakan, bahwa kami pergi karena diusir dan penyiksaan sebagaimana sudah saya jelaskan diawal. Jika berbicara masalah kesesatan…. Siapakah yang sesat sesungguhnya??? Saya yang yakin dengan aqidah Ahlusunnah wal jamaah, dengan bermanhaj salafush shalih dikatakan sesat/radikal/NII oleh seorang yang mengeksploitasi anaknya, berbuat beragam kezaliman, memukul, menendang sampai pingsan, menginjak-injak kepala anaknya, berbuat kesyirikan, pemabuk, pezina, tidak percaya Al quran, mengatakan Al-quran palsu sebagai wahyu Allah, bahkan berani menginjak-injak Al-quran di depan anak-anaknya, menantang Allah dengan meminta didatangkannya Adzab apabila benar Al quran itu memang wahyu Allah, mengumpamakan dirinya sebagai Tuhan yang mampu menciptakan manusia.!!! Maka siapakah yang sesat… siapakah yang dalam kesesatan….. siapakah yang radikal…… saya dengan adik-adik saya ataukah dia.???
Itulah diantara rentetan dosa-dosa pak Ujang yang melampaui batas….. secara fisik saya mampu menahan segala siksan yang mendera dan melingkupi hari-hari kehidupan saya, namun ketika kitab suci Nya, Dien Nya sudah diinjak-injak, dilecehkan sedemikian rupa, maka demi Allah saya tidak dapat menerimanya!!!! Inilah kesesatan dan kejahatan!! Dan saya juga melampirkan surat pernyataan sebagai bukti adanya kekerasan yang dilakukan pak ujang.
Demikianlah sepenggal kisah kehidupan saya dengan sejujurnya dan sebenarnya, saya ungkapkan, sekali lagi semata-mata untuk sebuah kebenaran.
Semoga Allah memudahkan segala urusan saya, hanya kepada-NYa segala urusan saya serahkan.
Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi wabarakaatuh
Yang selalu mengharap ridho Allah;(Ming-Ming Sari Nuryanti)
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isu Negara Islam Indonesia (NII) telah dimanfaatkan untuk menyudutkan dan mendzolimi Islam dan kaum Muslimin dan diperkeruh oleh media-media sekuler yang Islamphobia dengan pemberitaan yang diskriminatif dan tendensius. Saatnya media Islam bersatu dan menghalau isu negatif dan murahan ini serta membantu saudara-saudara Muslimnya yang didzolimi. Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bish shawaab...
Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...