MENCINTAI TANPA SYARAT

(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...

Haruskah meminta pembuktian bahwa banyak memberi (bersedekah) maka harta yang dimiliki akan semakin banyak pula, barulah bisa yakin memberikan hartanya akan diberikan balasan berlimpah oleh ALLAH?

Haruskah meminta hasil penelitian para ahli kesehatan yang mengatakan bahwa makanan & minuman yang diharamkan memiliki dampak berbahaya bagi tubuh, barulah diri ini akan menjauhi makanan & minuman tersebut?

Haruskah meminta adzab yang besar ditimpakan kepada kita, barulah diri ini merasa tidak ada apa-apanya? [Asy-Syu'ara : 187]

Haruskah meminta ALLAH yang selama ini tidak terlihat, untuk menampakkan diri-Nya, barulah diri ini akan berkata "saya percaya"? [Al Furqon : 21]

Haruskah meminta malaikat yang memberikan nasehat, barulah nasehat tersebut didengarkan? [Al Furqon : 21]

Sampai kapankah diri ini akan mengajukan banyak pertanyaan-pertanyaan kritis sebagai syarat agar bisa benar-benar mencintai ALLAH?

Apakah ada jaminan jikalau seluruh pertanyaan yang diajukan dapat terjawab, maka diri ini akan cinta kepada ALLAH?

Atau malah seperti umat Nabi Musa ketika diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi betina?
Karena kekritisannya, mereka memintakan persyaratan-persyaratan yang justru menjadi pemberat bagi diri mereka sendiri, yang hampir saja membuat mereka tidak melaksanakan perintah tersebut.

Masihkah diri ini cinta, jika jawaban-jawaban yang diri ini dapatkan tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan?

Masihkah diri ini yakin, jika ketika diri ini memberikan hartanya, namun ALLAH menguji diri ini secara tanpa diketahui dengan habisnya harta yang diri ini miliki?

Masihkah diri ini menganggap haram, jika makanan & minuman yang diharamkan oleh ALLAH, justru memiliki banyak manfaatnya?

Masihkah diri ini merasa tidak ada apa-apanya atau malah mencerca ALLAH, ketika ALLAH mendatangkan adzab kepada diri ini?

Masihkah diri ini mengaku percaya atau justru mengingkari dengan rasa ketidakpercayaan, jika ALLAH menampakkan sosok diri-Nya?

Masihkah diri ini mau mendengarkan nasehat-nasehat atau malah membantahnya dengan alasan "manusia itu makhluk yang paling sempurna dibanding malaikat, jin, hewan, dan lainnya", jikalau yang memberi diri ini nasehat adalah langsung dari golongan malaikat?

Pahamkah arti "Kami dengar dan kami taat"?
Pahamkah arti "Yang baik menurut kita belum tentu baik di sisi ALLAH, dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk di sisi ALLAH"?

Manusia tidak lain hanyalah pelaksana. Segala pedoman & peraturan telah ada semuanya lewat apa yang telah ALLAH sampaikan melalui perantara-Nya, Rasulullah. Dan ALLAH membuat semua pedoman & peraturan tersebut tidak lain untuk menguji siapa saja yang benar-benar cinta kepada-Nya. Mereka yang cinta, mereka yang setia mengikuti perintah-Nya, mereka yang kuat menahan diri dari segala hal yang dilarang-Nya, meskipun terkadang terasa berat, meskipun terkadang tidak benar-benar mengetahui alasan logisnya. Itulah cinta tanpa syarat, berusaha mendengarkan & taat tanpa banyak pertimbangan untung & rugi secara duniawi, tanpa banyak bertanya karena keraguan. Cukup berusaha mendengarkan & taat.

Jika pondasi cinta kepada ALLAH dibangun hanya berbahankan materi dunia, maka yakinlah pondasi cinta tersebut akan mudah mengalami kehancuran oleh materi dunia pula. Karena dunia tidaklah abadi.

Namun tentu tidak sama, jika cinta untuk ALLAH dipondasikan kepada ALLAH pula. Karena ALLAH sebaik-baik penjaga & penolong diri ini. 

Wassalaamu ‘alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh…