BERSIKAP ADIL TERHADAP ILMU

(Bismillaahirrohmaanirrohiim)
Assalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...

Sekarang bukan jamannya perburuan majelis ilmu, yg dulu langka, jarang, & sangat dicari-cari. Tapi sekarang jamannya persaingan majelis ilmu, sudah sangat banyak dimana-mana, masing-masing punya agenda majelis tersendiri, hanya tinggal mana yg materinya lebih bagus, itulah yg pesertanya ramai.

Benar begitu?

Dulu, ketika masih kecil, yang namanya kajian palingan muncul minimal 1 bulan sekali (selain khutbah Jum'at), dan paling banyak pas bulan Ramadhan, subuh isya' rutin kajian bermunculan, namun di luar Ramadhan kembali 1 bulan sekali lagi.

Tapi, sudah semenjak beberapa tahun ini, kajian-kajian bermunculan begitu banyak, memasuki masjid-masjid ataupun mushola-mushola. (Subhanallah)
Hampir di setiap masjid/mushola memiliki agenda rutin kajian setiap minggu. Hampir setiap waktu, ba'da subuh, waktu dhuha, ba'da dzuhur, ba'da ashar, ba'da maghrib, ba'da isya'. Ada yang tentang aqidah, fiqih, tafsir, kontemporer, dan banyak lagi. Mau yang cuma 15 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, ataupun seharian.

Jadi jika ada yang bilang, "Ngapa minggu ini tidak ada kajian?". Sebuah pertanyaan yang sangat tidak realistis jika dihubungkan dengan kenyataan.
Terkadang orang hanya terpaku pada satu tempat, satu materi, ataupun satu pemateri, sehingga ketika yang satu itu tidak ada, lalu tidak ada kemauan untuk mencari yang kedua. Misal, di masjid "A" setiap minggu ada kajian rutin dengan materi Aqidah, dengan pemateri tetap ust."A". Tiba-tiba ust."A" harus pergi keluar kota karena ada urusan selama beberapa bulan, sehingga beberapa bulan itu masjid "A" sepi akan kajian, dan jama'ah masjid "A" mulai berkomentar "Ngapa tidak ada kajian lagi nih?", padahal jika ingin melangkah ke masjid "Tetangga", sedang ada kajian juga. Lalu, ketika muncul ustad baru bernama ust."B" rekomendasi dari ust."A", karena jama'ah masjid "A" lebih kenal dengan ust."A", maka kajian dari ust."B" tidak seramai ust."A". 
Betul indak? Realistis loh. 
Terpaku pada satu tempat > jika tidak di masjid "A", tidak mau ikut kajian di tempat lain.
Terpaku pada satu materi > jika materinya tidak tentang (misal) "Aqidah", tidak mau ikut kajian materi lain.
Terpaku pada satu pemateri > jka pematerinya bukan orang yang biasa nyampaikan kajian, tidak mau hadir.

Pada kenyataannya kesempatan untuk mencari ilmu sudah sangat terbuka lebar, hanya tinggal menjawab 1 pertanyaan, "Mau atau Tidak?" 

"Berusaha untuk bersikap adil terhadap ilmu. Bukan memilih-milih."

Wallahu a'lam bish shawaab...
Wassalaamu 'alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh...